Langsung ke konten utama

FENOMENA SANG ADIK MENDAHULUI SANG KAKAK

Menikah bukan hanya sebuah ritual wajib yang harus dilakukan oleh pasangan yang sudah siap melaksanakannya. Menikah bukan hanya sebuah perjanjian antara seorang lelaki dan perempuan yang disahkan secara agama, hukum dan moral sosial.



Menikah bukan hanya menyatuh dan membentuk ikatan dua keluarga. Menikah bukan hanya untuk berbagi nafsuh dan syahwat dengan pasangan halal kita. Menikah bukan hanya menambah garis keturunan dan melahirkan keturunan yang doanya lebih diijabah oleh tuhan. Menikah adalah gabungan dari semuanya.

Pondasi dari sebuah pernikahan ialah niat untuk mengharapkan ridho Allah SWT semata dalam menjalani kehidupan ini dan mencintai dalam keimanan seseorang kepada tuhannya. Jika membahas pernikahan adik melanghahi kakak, seperti yang kita tahu ada sedikit masalah di masyarakat atau adat kita.

Banyak yang berpendapat harus mendahulukan kakak yang lebih tua untuk menikah, atau kasarnya adik menunda tidak boleh melangkahi kakaknya untuk menikah. Dan Ada juga sebagian masyarakat yang menganggap jika melangkahi kakak diperbolehkan. Namun, ada semacam ritual atau tanda mata dari adik yang harus dilakukan.

Dibeberapa daerah dianjurkan bagi adik untuk memberikan tanda mata sebelum mendahului kakak untuk menikah. Hal itu memang bagian dari mitos, namun jika dipandang lebih realistis memang tidak ada salahnya melakukan prosedur tersebut seperti itu. Anggap saja ungkapan terimakasih atas pengertian si kakak yang bersedia dilangkahi.

Keputusan menikah datang tanpa memandang usia, atau urutan sebagai anak keberapa dalam keluarga. Tidak selamanya kakak selalu menjadi lebih dulu dari adiknya dalam urusan menikah. Memang kakak ditakdirkan lebih dahulu lahir sehingga punya pengalaman lebih banyak dari adik.

Tapi untuk urusan rezeki, maut, dan jodoh ternyata tidak memandang siapa yang lebih dahulu dapat rezeki, jodoh ataupun maut dibanding kakaknya. Ada hadis yang mengatakan, aislah pake hadis lagi “Barang siapa yang memudahkan urusan orang lain pasti Allah akan memudahkan urusannya”. 

Benar bangat Allah tidak pernah ingkar dengan hadisnya. Aku tahu bagaimana ransanya dilangkahi menikah oleh adik kandung, mendengar berita itu seperti petir menggelegar yang langsung menghantam tubuhku. Terasa matipun tidak, tapi kekuatannya melumpuhkan aku.

Dan ternyata lebih susah lagi kalau harus mengikhalaskan saudara kita yang lebih muda untuk duluan menikah, terutama saudara kandung. Sepupu saja rasanya sedih bangat apalagi saudara kandung. Seperti kata syahrini, “aku ikhlas adikku menikah tapi hati ini perih”.

Aku sedih dan bahagia disaat yang bersamaan. Aku wanita yang juga berperasaan, Hati hancur dan semakin lemah. Disaat adikku menyiarkan niat bahagianya. Aku bahagia, sungguh. Namun sebagai seorang perempuan, aku sulit mengelakkan bahwa berat jika harus dilangkahi adikku.

Aku sulit mengikhlaskan takdir ini, bagiku sangat berat. Akankah adikku memahami perasaanku? Aku yakin dia tidak mengerti perasaanku disaat itu. Aku tidak pernah mempersiapkan hatiku untuk menghadapi kenyataan bahwa adik sematang wayang yang selama ini bersamaku mendahului aku dalam mengikat janji dengan jodohnya.

Bagiku ini terlalu cepat, hatiku tak mampu menerimanya. Jika mereka menilaiku egois dengan pendirianku maka mereka harus sadar betapa itu menyiksa batinku. Sejujurnya saat itu aku tidak bisa menahan tumpahan air disudut mata yang jatuh di pipiku dan juga tidak bisa menahan suara yang tiba-tiba hilang.

Sedih? Manusiawi aku tidak ingin adikku tahu kalau disaat itu hatiku terasa perih. Menjadi kakak yang didahului oleh adiknya, menikah bukanlah aib. Kamu tidak melakukan dosa, jadi jangan malu dan merasa dirimu kotor.

Tidak jarang di lingkungan masyarakat, kakak yang telah didahului oleh adiknya dianggap sebagai sumber bencana dan menjadi perbincangan hangat tetangga. Ini pernah dialami oleh seorang teman aku yang menjadi depresi dan mengurung diri dirumah berhari-hari, tidak mau keluar rumah.

Sampai suatu saat dia pernah bilang kepada aku bahwa dia ingin pergi ke tempat yang jauh dari rumahnya. Jadi santai jangan terlalu bersedih dan menganggap dirimu paling menderita dan tidak beruntung di dunia ini karena kita tidak tahu takdir, hanya Allah SWT yang tahu dan yang menentukannya. 

Yakinilah dan syukurilah takdirmu karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan luar biasa ini. Ada banyak ladang amal yang bisa kamu dapatkan jika kamu bisa menjalaninya.

Komentar