Langsung ke konten utama

SEPUTARAN PERTANYAAN KAPAN, KAPAN DAN KAPAN

Momen Idul Fitri atau lebaran merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh sebagian besar orang, khususnya umat Islam. Selain merupakan salah satu hari raya keagamaan, lebaran juga merupakan momen di mana kita  biasa berkumpul bersama keluarga maupun teman lama yang sudah lama tidak bertemu. 
Kita biasa saling bermaaf-maafan untuk membersihkan dosa sosial kita dan juga saling bertegur sapa, merekatkan kembali tali silaturahmi yang sudah terjalin. Di momen itu biasanya kita perbincangan macam-macam, dari mulai bertanya kabar sampai mengenang masa-masa kejayaan dulu.

Nah, beberapa yang belakangan ini menjadi momok tersendiri, khususnya generasi milenial, adalah pertanyaan sudah kerja? dan "Kapan nikah?". Saking seringnya pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan, ketawa-ketiwi berubah menjadi bête sebete-betenya saat mendengar lima huruf itu.

Momen berkumpul bersama keluarga seperti lebaran mungkin akan menjadi momok yang mengerikan karena kemunculan salah satu kata tanya ini. Fenomena ini menjadi sering ditanyakan karena mungkin sebagian besar penduduk Indonesia saat ini adalah generasi milenial yang sedang dalam proses mencari identitas (bagi remaja) dan mencari pasangan hidup (bagi dewasa).

Seseorang yang sedang berusaha untuk meraih sesuatu biasanya cenderung sensitif apabila terus-menerus ditanya tentang progress-nya. Hal inilah yang membuat sebagian besar generasi milenial merasa tak nyaman jika terus-menerus ditanya kapan, kapan, dan kapan.

Siapa sih yang tidak ingin kerja? Dan siapa sih yang tidak ingin menikah? Menikah itu Ibadah dan dengan menikah berarti seorang hamba sudah menyempurnahkan separuh agamanya. Terlebih ketika seseorang sudah menginjak usia dewasa tentulah itu sudah ada dipikiran mereka dan ingin mereka laksankan. 

Jadi sebenarnya kalian tak perlu nyinyir dan menuntut aku dengan pertanyaan soal kapan acara pernikahannya yang malah akan menjadi beban dan kekesalan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut amat menghantuiku akhir-akhir ini dari semenjak diriku dilamar pada tanggal, 2 Mei 2019 sampai sekarang.

Jujur aku sudah sangat  lelah dengan pertanyaan- pertanyaan seperti ini, banyak masalah yang terjadi dan banyak hal yang membuatku menagis. Apa lagi gairah dan semangatku sudah berkurang karena terus-terus di tertekan sama keluarga.

Tapi aku tetap berusaha menjadi pribadi yang sabar dan yakin bahwa semua kesedihan dan penderitaan  yamg aku hadapi akan berubah menjadi kebahagian. Aku yakin, aku pasti mendapatkan kebahagiaan dibalik penderitaan yang aku rasakan sekarang. Aku harus percaya bahwa jalan yang tidak mudah hanya akan membuatku ketempat terindah yang akan membuatku kagum dan sangat bahagia.Amin

Hadapi dengan penuh kesabaran karena pasti aka ada kebahagiaan setelah penderitaan yang aku dapatkan. Aku selalu berdoa kepada Allah bahwa aku butuh sekali seorang pria yang sholeh yang dapat membuatku bahagia dunia akhirat.

Buat kamu. Iya kamu, kamu yang masih senantiasa aku ikhtiarkan, kamu yang tak luput dari doaku, kamu yang masih saja aku perbincangkan dalam istikharah di atas sejadah dengannya. Sampai kini aku tidak tau seperti apa perasaanmu, tapi yang pasti aku yakin pilihanya selalu terbaik untukku nanti.

Jika suatu saat nanti kita bertemu maka aku akan melibatkannya dalam setiap detik pertemuan itu agar disatukan dalam ikatan halal (Pernikahan) dan jika nanti akad telah terucap didepan waliku, maka aku aka mengatakan bahwa aku mengikhtiarkanmu, mendoakanmu, mengistikharahkanmu, lalu kini kau telah bersamaku. Terima kasih telah memilihku menjadi separuh agamamu.

Penulis : Heni Susanti

Komentar