Saat menjalin hubungan asmara baik itu pacaran atau pernikahan. Setiap orang pasti ingin hubungan tersebut bahagia dan langgeng selalu. Jauh dekat pasangan, keduanya tetap ingin hubungan yang dijalani mendatangkan kenyamanan dan kedamaian di hati.

Dalam menjalankan hubungan jarak jauh, kita juga harus lebih kuat terhadap segala godaan ataupun cobaan yang ada, kita bahkan harus lebih kuat menahan rindu yang seringkali mengguncah dada. Semakin aku kangen semakin mudah aku ngambek, marah dan nangis gak jelas.
Terkadang Perilaku kamu yang kadang suka gak ngabarin seringkali membuatku berpikiran yang aneh-aneh, gak enak hati dan bahkan marah besar. Aku berpikir kalau kamu sudah gak seperti dulu lagi. Hal itu membuatku bertanya-tanya dan memikirkan yang gak gak sampai galau maksimal.
Ketika aku mau menyapamu lewat chating biasanya ada sedikit rasa gengsi untuk memulai duluan. Aku juga gak tau apa yang ada dalam pikiranmu saat hilang tak ada kabar. Aku hanya ingin komunikasi diantara kita yang terjaga cukup baik membuatku selalu percaya untuk tetap mempertahankan hubungan yang tidak mudah ini.
Saling memberi kabar dan berbagi cerita walaupun hanya lewat pesan singkat atau telepon itu yang menjadi tradisi yang kita jalani. Terkadang dalam hatiku selalu bertanya kau dengan siapa? Lagi dimana? Apa yang kau lakukan hari ini? Sudah makan? Bagaimana kabar? Ah pertanyaan itu yang selalu terlintas saat kau belum mengabari, saat kau masih sibuk bekerja, sedangkan mataku sudah tak kuat menahan kantuk saat aku menantimu pulang memberi kabar.
Sedikitpun kata apa, agar kekhawatiranku berada dijalur yang benar. Cemburu merupakan hal yang wajar dalam hubungan. Pasangan yang cemburu menandakan bahwa aku sungguh-sungguh cinta dan sayang. Aku cemburu juga itu menandakan bahwa aku tidak main-main dengan perasaan ini dan aku takut kehilangan.
Meski saat ini kita menjalin hubungan asmara yang harus terpisah oleh jarak dan waktu tapi aku berharap kau memahami bahwa rindu ini tak bisaku bendung lagi, namun aku tak bisa menyuruhmu untuk segera pulang hanya sekedar membenarkan bahwa keriduan ini semakin gila. Aku hanya ingin berusaha menjadi wanita yang memahami segala kesibukanmu.
Kini kumengerti tentang pekerjaanmu, dan segala rutiritasmu yang tak bisaku awasi. Namun rasa percaya ini tak pernah hilang sedikitpun untukmu. Seringkali ku mengeluh tentang jarak yang begitu jauh dan kamu yang tak bisa kusentuh. Rindu yang mengerikan membawa pilu.
Terkadang Ada ketakutan tersendiri disaat kau disitu, aku berpikir kau akan menemukan wanita yang lebih menarik. Entah sekedar teman kantor atau teman social media yang kau punya. Aku hanya khawatir dan tergoda dengan hal itu. Sekalipun aku tak bisa membahagiakanmu, tak akan pernah ku biarkan wanita lain menggeserkan posisiku dihatimu.
Untuk pria yang sedangku tunggu, memang jarak terlalu jauh untuk memeluk tubuhmu, namun doa tak henti-hentinya mengalir untuk kehidupanmu. Kunanti kau pulang membawa cinta yang masih utuh untukku, agar bahagia selalu bersamamu walaupun kau jauh dariku.
Aku selalu berdoa kepada tuhan jika dia jodohku, jaga dia dalam kebaikan dan pertemukan kami di waktu yang tepat. Waktu dimana kita berdua benar-benar siap dan mantap untuk mempunyai status baru. Tidak lagi tergantung dengan adanya orang tua dan tanggung jawab hidup akan kita pikul bersama. Amiin
Jagalah kami dalam kebaikan. Tak apa saling berharap dan saling menjauh karena jodoh tidak selalu bersama, sebelum kepelaminan. Sibukan kami dalam kebaikan sehingga kami siap dan lupa lamanya penantian. Penantian yang kadang memberikan keraguan dan hilangnya kepercayaan kalau kau adalah jodoh yang dipersiapkan untukku.
Kita sama-sama tidak tau kalau nantinya kau dan aku akan bersama. Bersama bukan hanya berdua tapi ada keluarga yang kita persatukan dan ada jalan yang kita persiapkan. Ibu dan ayahmu akan menjadi ibu dan ayahku juga, begitupun sebaliknya ibu dan ayahku akan menjadi ibu dan ayahmu juga, jadi kau adalah bagian yang aku temukan dan akhirnya semoga kita dipersatukan.
Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan sopan, anda sopan kami segan