Guru adalah sebuah profesi yang mulia karena ditangan mereka masa depan bangsa ini ditentukan. Guru punya 2 fungsi, sebagai pendidik dan pengajar. Yang keduanya termasuk dalam memberikan pengetahuan dan mendisiplinkan murid.

Tugas guru yaitu seperti yang telah diamanatkan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 pada alinea ke-4. Salah satu tujuan Negara adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Misi ini tentunya mustahil dilakukan tanpa guru. Tanpa guru juga, maka tidak akan ada dokter, pengacara, insinyur, polisi, TNI, dan profesi-profesi yang lainnya.
Keberadaan guru honorer memang menyisakan beragam cerita di dunia pendidikan. Mulai dari susahnya naik jabatan menjadi PNS, hingga masalah honor yang perbandingannya bagaikan bumi dan langit. Miris memang, namun itulah kenyataan yang terjadi pada saat ini, para pahlawan tanpa tanda jasa itu harus berjuang seorang diri ditengah ketidak pastian.
Pemerintah pun seolah tak sanggup lagi mengurus keberadaan mereka. Disekolah seolah-olah ada hal yang tak tertulis mengenai jabatan. Jabatan tertinggi tentu saja kepala sekolah sebagai pemimpin sekolah yang hobby-nya mennyuruh-nyuruh dan paling berkuasa, yang kedua yaitu ditempati oleh guru PNS dan yang terakhir yaitu guru honorer.
Mau tidak mau guru honorer harus menempati kasta terendah di sekolah, di sejajarkan dengan penjaga sekolah atau tukang kebun. Guru honorer harus rela disuruh-suruh bagaikan pembantu, ya namanya juga guru bantu harus nurut dong. Misalkan kepala sekolah memberi tugas pada guru PNS untuk mengisi buku induk siswa, maka guru PNS dengan mudahnya saja melempar tugas tersebut pada guru honorer.
Mulai dari mengisi nomor induk siswa, memberi pelajaran tambahan pada siswa, sampai mengisi rapor siswa pasti sudah khatam kamu jalani semuanya. Mau menolak merasa tak enak, tapi dirasakan lama-lama juga semakin menyiksa. Guru honorer juga sering dianggap minim pengalamanya dan tidak tahu apa-apa. Karena itu, jangankan menkritisi kebijakan sekolah demi kebaikan bersama, pendapatmu saja tidak pernah dianggap. Ibaratnya menjadi seorang guru honorer sebaiknya kamu diam-diam saja, tak usah banyak bicara dan nurut saja kalau disuruh apa-apa.
Itu belum seberapa, karena jika ada masalah yang terjadi, guru honorer seringkali dikambing hitamkan, sebab posisinya paling mudah untuk disalah-salahkan. Gaji tetap bulanan dan kenaikan golongan yang mungkin salah satu alasan mengapa pegawai negeri menjadi posisi yang sangat diperebutkan, selain itu juga pegawai negeri berhak atas tunjangan-tunjangan lainnya, hingga uang pensiunan yang membuat masa tuanya tak perlu khawatir apa-apa lagi.
Berbeda dengan guru honorer yang tidak digaji pemerintah, hanya mengandalkan dana BOS (Biaya Operasional Sekolah) dan hanya tergantung berapa banyak siswanya. Tidak ada standar upah minimum untuk guru honor. Sangat jarang ditemukan guru honorer yang digaji di atas 1 juta ataupun lebih. Tapi sebagai guru honorer juga, uang pensiunan jelas bukan hal yang sempat dipikirkan.
Gaji yang hanya ratusan ribu itu saja sudah cukup menjadi beban pikiran. Belum lagi, sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) juga membuatmu berhadapan dengan kemungkinan dipecat setiap saat. Bisa karena kamu tidak cocok dengan kebijakan kepala sekolah, karena performa yang dinilai kurang, atau bisa saja karena kehadiranmu dinilai tidak lagi dibutuhkan.
Terkadang yang paling ditunggu-tunggu oleh guru honorer selain turunya gaji triwulan yang tak seberapa itu, tentu adalah tes CPNS, menjadi salah satu hal yang paling dinanti-nanti oleh para guru honorer, inilah kesepatan untuk mengejar mimpi. Bagi para guru honorer, seleksi CPNS merupakan satu-satunya kesepatan untuk mengejar mimpi, inilah kesepatan untuk memperbaiki hidup.
Namun yang namanya tes tentu saja terdapat konsekuensi yang harus diterima, tentu ada yang pahit dan ada yang manis. Ada yang berhasil mengubah status guru honorer menjadi guru PNS, dan ada juga yang masih harus coba lagi dan coba lagi. Ada yang harus menunggu sepuluh tahun untuk bisa diangkat sebagai PNS, bahkan ada pula yang hingga tutup usia tak pernah meningkat pangkatnya.
Bila ditanya apa keinginanya, tentu mereka tidak ingin gaji yang setara direktur utama atau pejabat di istana Negara. Mereka hanya ingin diakui sebagai tenaga pendidik yang ikut menyumbang dalam misi mencerdaskan kehidupan bangsa. Kerja kerasnya tak kalah dengan guru-guru yang bersertifikasi. Dan untuk membantu para siswa belajar tidak perlu dipertanyakan lagi. Bahkan dengan gaji yang tidak cukup untuk setengah bulan, semangatnya untuk mengajar dan berbagi ilmu tidak berkurang. Kerja keras tetap kamu lakukan, meski upah tidak seimbang.
Menjadi guru honorer yang tak ikut berbahagia ketika ada pengumuman dana sertifikasi turun, memang berat. Tuntutan hidup harus selalu disampingkan demi memberikan yang terbaik untuk anak didik. Menerima gaji tiga bulan sekali, perasaan ini bingung antara bersyukur atau miris karena bingung bagaimana mengatur agar cukup. Kerja keras yang dibayar tak seberapa memang menyakitkan. Namun semua itu terbayar lunas, setiap kali melihat senyum anak didikmu, dan melihat kesuksesannya.
Bila ada yang marah karena merasa tak pantas bila seorang guru mengharapkan gaji yang besar, tentunya harus berpikir ulang. Memang benar guru adalah profesi yang begitu dekat dengan hati. Ketulusan dan kasih sayang serta dedikasi yang tinggi mutlak perlu untuk menyiapkan generasi-generasi hebat yang menjalankan roda-roda Negara dan kehidupan ini. Akan terlihat tidak etis dan terkesan materialistis bila guru menuntut kenaikan gaji. Tapi bukankah kita juga wajib menghargai jasa-jasa mereka? Caranya dengan lebih memikirkan kesejahteraannya. Karena bagaimana kita mengharapkan hidup yang sejahtera, bila agen pencerdas kehidupan bangsa justru hidup dalam duka derita.
Salam dari Pahlawan tanpa tanda jasa.
Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan sopan, anda sopan kami segan