
Ragaku di sini, tapi jiwaku ada di sana. Ketika sedang berada jauh dari rumah, terkadang jiwaku terasa tertinggal di sana. Bukannya nggak betah di perantauan, tapi rasa rindu memang seringnya menghampiri tampa kenal waktu dan kondisi. Benar juga kata orang, jaraklah yang akhirnya menyadarkanmu betapa berharganya keluarga di rumah.
Terasa sepi dan menyiksa di tengah keramaian, jiwaku tak bisa terima kenyataan di depan mata, sementara yang terasa jiwa ini kosong, pikiran ini entah ada dimana. Bukan disini, bukan ditempat ini, bukan dikota ini. Aku benci suasana ini, aku bukan benci tempat ini, aku tak sanggup menyelami yang ada di depan mata ini. Aku lebih tenggelam dalam lamunan kesuatu tempat yang jauh. Jauh dari sini, jauh dari nyata. Karena hanya sebuah keterpaksaan.
Aku ada disini karena keadaan akibat suatu pilihan. Pilihan hidup yang harus membawaku ketempat ini, menjalani pilihan hidup untuk mengubah nasib. Nasib hidupku yang lebih baik disini dari pada dikampung halaman.
Ada saatnya aku menangis karena merasakan rindu. Sedih karena tak bisa langsung menatap wajah orang tua dan saudara untuk menyampaikan rasa kangen. Hanya suara mereka yang bisa menguatkan. Doa-doa mereka yang bisa memberi kita cahaya terang. Saat ini mungkin aku menderita. Tapi yakin InsyaAllah akan berakhir dengan indah. Asakanl tetap bersabar, bertahan dan berani melangkah kedepan.
Kangen saat seperti dulu, biasanya sehari sebelum lebaran suasana rumah ramai dengan semua persiapan lebaran seperti, buat jajan lebaran, bersih-bersih rumah, nyetrika pakaian lebaran dan sebagainya. Lebaran ini, tidak seperti lebaran sebelumnya. Namun sekarang semuanya berbeda, aku akan lebaran di perantauan, jauh dari keluarga dan sanak saudara, itu salah satu resiko yang harus aku terima. Waktu dan keadaan yang membuat hidup kita keras sehingga jarak itu semakin lama semakin membuat kita lebih kuat untuk menahan rasa rindu ini.
Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan sopan, anda sopan kami segan