Langsung ke konten utama

KOPI, PENGHILANG PENAT KALA DUKA LARA MENGHUJAM

SEJAK kembali berpijak di kota ini, dengan berseliwerannya makhluk corona. Praktis aku banyak menghabiskan waktu di kos-kosan. Agenda yang belum clear, membuatku masih tertahan di tanah rantauan.

Untuk menikmati hari, aku hanya duduk di lantai dua kos-kosan sambil menyeruput kopi hitam. Di sini aku  bisa melepas pandang, melihat bangunan-bangunan yang tumbuh subur di beberapa titik di kota ini. Dari kejauhan terlihat mesjid megah yang merupakan icon kota yang dijuluki pulau seribu mesjid ini.

Di luar sana tak banyak kendaraan yang lalu lalang. Sebab, hampir semua aktivitas publik tersendat karena corona. Kalau pun ada, tentu harus memenuhi standar protokol kesehatan yang ketat. Dimana-mana orang mengenakan masker. Bahkan di kantor, tokoh, pasar, bahkan di depan rumah terdapat tempat untuk mencuci tangan. Semua orang menaruh perhatian besar pada kebersihan, sebab jika tidak begitu, corona akan mudah menjangkiti dan menular ke semua orang.

Di sini aku masih menikmati kopi yang sedikit manis. Setiap sore, kala mentari di ufuk barat di langit kota Mataram, aku selalu menyempatkan waktu untuk kopi dan menikmatinya sendiri di atas lantai dua kos-kosanku. Aku bukan pecinta kopi kelas berat, bagiku semua kopi sama saja, yang penting judulnya kopi aku tetap menenggaknya. Dan yang paling enak ketika istriku membuatkannya untuk ku ketika bangun tidur kala pagi menyapa semesta.
Aku sendiri pernah membaca suatu publikasi tentang kopi. Dalam perjalanannya, kopi tidak hanya masalah selera, tetapi lebih luas dari pada itu. Kopi telah menentukan  peradaban ekonomi suatu kaum. Kopi juga menjelaskan tentang budaya perlawanan, tentang kolonialisme dan imperialisme bangsa eropa terhadap masyarakat benua timur. Bahkan di era kekinian, kopi menentukan kelas seseorang dalam lapisan sosial kemasyarakatan.

Kopi memberikan  warna pada budaya masyarakat tertentu. Menghiasinya menjadi pelangi dengan tak menghilangkan identitas penganutnya. Bahkan  kopi telah mengawetkan nama daerah tertentu di kancah interaksi masyarakat yang lebih luas. Tersebutlah kopi Tambora dari Dompu, kopi Gayo dari Aceh, kopi robusta dari Temanggung dan kopi liberika dari Riau, kopi Arabika dari tanah Flores dan daerah lain  di Nusantara.
Hari ini, ketika menyeruput kopi sendiri, aku merasakan satu kenikmatan di atas keringat, darah dan air mata bangsa pribumi di masa lalu. Mereka dieksploitasi demi memenuhi hasrat bangsa kolonial yang rakus. Pikiranku juga melayang ke udara. Bahwa dengan mengetahui kopi yang bukan hanya sekedar label, aku bisa mengawetkan pikiran  bahwa di masa lalu penjajahan itu memang pernah langgeng.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Negara Muslim di Eropa (European Moslem Countries)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Hai guys Gimana kabarnya semoga semuanya baik-baik saja ya, Aamiin. Baik untuk kesempatan kali ini saya akan membahas Negara-negara mayoritas Islam di Benua Eropa, kalau ditanya apa sih agama mayoritas penduduk Eropa? tentu sebagian besar dari kita akan menjawab beragama Nasrani atau Kristen, ya Secara Vatikan yang menjadi pusat agama Katolik di dunia terletak di Benua ini. Sedangkan yang pernah berkunjung kesana mungkin akan menjawab mayoritas penduduk Eropa sekarang banyak yang menjadi atheis, banyak yang bergaya hidup bebas karena sistem sekuler yang telah diterapkan di sana bertahun-tahun. Berikut adalah negara-negara mayoritas Muslim di benua Eropa : 1. Turki Turki meliputi dua benua sebagian meliputi benua Eropa dan sebagian lagi meliputi benua Asia, Negara ini adalah pewaris kekhalifahan Islam Turki Utsmani yang berkuasa selama berabad-abad di sebagian wilayah Eropa dan Timur Tengah, di Indonesia nama Turki semakin terkenal karena semak...

Kisah Mualaf Putra Sulung BOS FERRARI dan Juventus Edoardo Agnelli

Sebuah fakta baru terungkap dari lingkaran keluarga konglomerat Italia Gianni Agnelli, seperti diketahui adalah pemilik dua brand olahraga dunia yaitu klub sepakbola Juventus dan tim Formula One Ferrari. Selain itu ia juga memiliki brand otomotif merk Fiat, terlepas dari cerita mega itu putra sulungnya Edoardo Agnelli memiliki cerita yang memilukan. Edoardo yang pernah menjadi petinggi Juventus itu memilih keluar dari lingkaran kehidupan keluarganya dengan menjadi mualaf, tak banyak orang tahu siapa Edoardo, Edoardo sebenarnya sudah terbiasa dengan beberapa hal semisal bisnis sepakbola dan otomotif, Edoardo tak seperti sang ayah yang dikenal sebagai pebisnis ulung dan ahli bernegosiasi. Edoardo lebih senang menghabiskan waktunya dengan membaca buku-buku filsafat hingga tertarik dengan hal mistis yang pada akhirnya membawa Edoardo memilih untuk menjalani pendidikannya di Princeton University New Jersey Amerika Serikat, disini Edoardo memperdalam ketertarikannya tentang sastra filsafat d...

NEGARA Atheis Pertama Yang Kini NEGARA ISLAM

NEGARA Atheis Pertama Yang Kini NEGARA ISLAM yaitu Albania. Begitulah dunia menyebut negara Eropa yang satu ini, maka tak mengherankan jika bendera Nasional Albania bergambar elang hitam berkepala dua, dengan latar belakang merah. Hal ini disebabkan karena bendera ini pernah digunakan oleh Skanderborg saat memimpin pemberontakan melawan Ottoman pada abad ke-15 untuk menghormati jasanya. Maka bendera elang tersebut dijadikan bendera Nasional bahkan masyarakat Albaniah menyebut diri mereka sebagai anak-anak elang. Para akademisi percaya kalau penduduk Albania berasal dari keturunan non Slavia yang merupakan kelompok suku kuno Turki, sehingga orang Albania menganggap diri mereka sebagai keturunan illyria kuno, melansir britannica.com Suku illyria tinggal di Eropa Tengah dan bermigrasi ke selatan wilayah Albania pada awal jaman perunggu sekitar 2.000 sebelum masehi. Mereka telah hidup dalam isolasi dan ketidak jelasan, mulai sejarah panjang yang sulit hal ini terjadi bukan hanya karena...