
Indonesia negara besar yang berbasis sosial dimana masyarakatnya menjunjung tinggi persaudaraan dan gotong royong. Saya sangat bangga dengan jati diri bangsa ini, di bawah naunngan pancasila kami menyatu rasa. Saya berani mengatakan, tidak akan ada yang menemukan cacat rasa peduli di antara kami. Mungkin sifat alami ini dibentuk oleh latar belakang negeri ini yang pernah dijajah. Barangkali begitu.
Akan tetapi, tiga bulan terakhir ini saya dan barangkali kita semua seolah kehilangan jati diri. Bagaimana tidak? Bersamaan dengan covid-19 menggrogoti negeri ini jati diri bangsa ini pun ditelanjangkan. Diawali dengan kasus penimbunan masker, penimbunan bahan makanan, monopoli ekonomi, penyebaran berita dusta, penolakan korban covid-19, sampai pada tindakan intimidasi satu dengan yang lainnya.
Dalam tulisan ini saya akan mengulas bagian terkecil dari masalah tersebut yaitu sifat intimidasi yang tidak berdasar. Saya akan megambil dari pelosok negeri bagian Nusa Tenggara Barat, di desa Hu’u tempat tinggal saya. Sebuah desa yang pernah dilabeli “zona merah” karena memiliki pasien positif berjumlah dua orang cluster Gowa yang Allhamdulillah sudah dinyatakan negatif dan sudah pulang ke rumah masing-masing. Dalam prosesnya, dengan kesadaran penuh kedua keluarga besar dari pasien patuh terhadap protokol pemerintah sehingga selama masa karantina tidak banyak merepotkan tim SATGAS desa dan tenaga Medis. Kami bersyukur yang tiada hentinya kepada Allah karena telah hapuskan aib keluarga pasien dengan cara yang luar biasa dan sangat halus hingga tidak ada yang mengetahui dua kali keluarga pasien menjalani Rapid Test dan hasilnya Non-Reaktif.
Saya akan memberikan gambaran kepada kalian tentang deskriminasi yang muncul dari sini. Tentu sebelum Press Release hasil negatif itu keluar. Diawali dari masyarakat sekitar yang secara terang-terangan mendiskriminasi warga Hu'u, dengan melempar kata di tempat umum untuk menjauhi kami, berkoar di sosial media tentang bagaimana tidak baiknya kami, dan bahkan mulai mengoreksi tentang kehidupan agama kami. Tentu, lebih spesifik diskriminasi ini juga dilontarkan kepada keluarga korban, ini yang membuat saya mulai bertanya dimana letak rasa kemanusian masyakat? Bahkan dalam pancasila di sila ke-2 berbunyi “kemanusiaan yang adil dan beradab”. Dua kata yang saya rindukan hadirnya pada saat itu, namun pada kenyataanya nihil. Bukan kah seharusnya keluarga pasien diperlakukan dengan adil sebagaimana korban pada umumnya? Bukankah lisan-lisan masyarakat dapat lebih beradab, minimal untuk tidak berucap yang menyakitkan perasaan keluarga pasien?
Mungkin saat kalian membaca ini muncul pemikiran “wajar” karena masyarakat sedang menjaga jarak dengan wabah ini. Saya akan berikan gambaran lainnya, agar pemahaman kalian tentang ini utuh. Kalian tentu mengetahui bahwa desa Hu’u berdekatan dengan pantai lakey tempat yang strategis untuk berkumpul dengan pesona ombaknya yang bahkan mengundang peselancar dunia selalu berdatangan tiap bulan bahkan hingga kini di masa-masa pandemi ini. Saya beritahukan kepada kalian, masyarakat yang menjaga jarak ini membiarkan anak-anak nya untuk berbuka puasa bersama di area desa Hu'u pantai Lakey khususnya. Jangan bayangkan mereka adalah anak SMP atau SMA, mereka mahasiswa yang dipulangkan dari berbagai kota besar di Indonesia. Entahlah... ini jelas memunculkan pertanyaan baru. Apa iya, rasa percaya diri mahasiswa ini sangatlah besar hingga menerjang Zona merah demi berbuka puasa bersama? Atau jangan-jangan logika mereka juga telah ikut telanjang bersamaan dengan telanjangnya jati diri bangsa ini? Kenyataan ini akhirnya membuat masyarakat yang terlanjur berucap harus menelan pil pahit dan mementahkan himbauan yang dilabelinya sendiri. Barang kali, mereka berpikir untuk menjilat ludah sendiri tapi apa daya ludahnya telah kering dan mereka terpaksa harus pura-pura amnesia dengan predikat yang mereka sematkan kepada desa Hu'u. Entahlah... seandainya masyarakat ini memiliki budaya membaca yang baik, tentu tulisan ini akan lebih panjang dari ini hingga membuka banyak pandangan. Do’a penutup dari saya semoga pandemi ini cepat berlalu dan jati diri bangsa ini cepat kembali. Aamiin...
Oleh: Mutawalli
Komentar
Saya harus sependapat dengan tulisan ini.
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan sopan, anda sopan kami segan