Langsung ke konten utama

NEGOSIASI

Saya mengenal beberapa teman hijabers. Sebagai muslimah tentu mereka salehah: ibadahnya disiplin dan akhlaknya terjaga. Seiring dakwah Islam yang makin mengglobal lapisan ini terus berbiak. Sebuah trend yang membesarkan hati. 

Dulu waktu zaman saya kuliah jumlah kelompok ini masih kecil. Mereka biasanya membentuk kelompok sendiri, termasuk intensif bikin pengajian atau kajian. 

Dalam batas tertentu mereka terlihat eksklusif. Mereka membatasi diri berinteraksi terlalu dekat dengan orang atau lingkungan di luar kelompoknya. 

Alasan utamanya  kekhawatiran yang berbasis moralitas. Takut terkontaminasi terutama oleh virus modernitas. Meski ada yang saling tertarik, tapi dalam konteks relasi dengan lawan jenis, mereka sangat menjaga adab. 

Teman kos saya anggota kelompok ini cukup ketat menjaga adab dalam menjalin hubungan. Setelah kuliah mereka akhirnya menikah. 

Tetapi dewasa ini ternyata norma tersebut tidak sepenuhnya dapat dijaga secara ketat. Saya lihat banyak teman hijabers yang akhirnya berjodoh tidak dengan kelompoknya---katakanlah 'ikhwan'. Beberapa rekan saya yang bercadar malah ditakdirkan berpasangan dengan  cowok  berpenampilan "gaul' bukan 'ikhwan'. 

Memang ada beberapa yang berpenampilan 'gaul dan syar'i' sebagaimana tagline sebuah majalah remaja Islam era 90-an, tapi umumnya sih 'gaul' tanpa 'syar'i' sih😂

Tentu terlalu naif untuk menilainya sebagai bentuk 'ketaklukan' apalagi disederhanakan sebagai gejala  'inflasi' atau  'defisit' kaum hijabers, apalagi  'jual murah' atau persoalan banting harga dalam bursa perjodohan 🤣

Dalam kajian ilmu sosial seperti antropologi dan sosiologi tentu tidak ada satu peristiwa dan perilaku yang bergerak linear atau statis. Setiap perubahan tidak terjadi dalam ruang hampa tetapi senantiasa berinteraksi secara dinamis dan mendapatkan pengaruh atau saling memberi pengaruh dengan lingkungan sekitarnya. 

Dengan demikian saling kompromi dan negosiasi, termasuk soal nilai-nilai, itu hal yang biasa dan wajar belaka. Satu tata nilai atau norma yang sebelumnya  dianggap tidak lazim kemudian bisa diterima dengan berbagai rasionalisasi yang menyertainya. 

Persis sama dengan sikap masyarakat yang akhirnya dapat menerima keberadaan profesi rentenir, sebagaimana temuan riset  Heru Nugroho dalam "Uang, Rentenir dan Utang-Piutang dalam Masyarakat Jawa" (2004). 

Meski awalnya rentenir dianggap sebagai pekerjaan 'kotor, kejam dan terhina', tapi sumbangan mereka dalam berbagai kegiatan sosial agama (urun warga, gotong royong, bahkan pembangunan mesjid) akhirnya membuat masyarakat bisa menerima profesi ini. Mereka bahkan dianggap berjasa dalam membantu masyarakat. 

Gejala hijabers berjodoh dengan non-ikhwan atau cadar lovers berpasangan dengan cowok gaul nan trendy itu sesuatu yang alamiah saja. Mereka juga perempuan sebagaimana manusia normal lainnya, di luar kemungkinan adanya tekanan sosial yang tidak terhindarkan. 

Tetapi bagaimana yak saya kok masih sulit menerimanya😄 Meski istri saya bukan hijabers tapi---sungguh mati---saya gak ikhlas kalau mereka berjodoh dengan non-ikhwan. Persis seperti ketidak-ikhlasan saya melihat hubungan Lesti dengan Risky Bilar😍😂


Penulis : Ilyas Yasin

Komentar

sri wahyuni mengatakan…
Duh. Aku no comment sama yang beginian.
Neztra mengatakan…
Hmm gimana ya.. ada betulnya juga ada salahnya🥲

Postingan populer dari blog ini

Misteri Dasar Laut yang Bikin Merinding

Kita semua tahu sekitar 70% permukaan bumi ditutupi oleh air, tapi tidak semua orang tahu seberapa dalam dan misteri apa saja menyelimuti perairan di muka bumi ini, tidak ada petunjuk apapun soal apa yang tenggelam dan terpendam di dalamnya kita seringkali dibuat tercengang oleh misteri dalam air yang seolah tak ada habisnya. Seperti struktur-struktur aneh atau benda-benda yang terkadang diluar nalar, bahkan benda-benda misterius itu hingga kini masih sulit dijelaskan oleh ilmu pengetahuan, beberapa penemuan aneh yang seharusnya tidak ada di dalam air dan pastinya bikin kita merinding. Mesti banyak makhluk misterius di lautan yang belum teridentifikasi oleh para ilmuwan, tiga orang penyelam menjelajahi kapal bekas perang dunia ke-2 yang tenggelam di Australia, alih-alih menemukan kapal, para penyelam itu justru menemukan hal aneh yang tak pernah dilihat manusia di kegelapan lautan. Mereka menemukan sebuah gumpalan transparan misterius mirip seperti telur raksasa, setelah dicari tahu ke...

4 Anak Band yang Hijrah dan Jadi Pendakwah

Hai guys gimana kabarnya semua, semoga tetap sehat walafiat semua, Aamiin, kali ini saya akan merangkum kisah anak band yang memutuskan untuk berhijrah dan meninggalkan masa lalu yang kelam, riang penuh dengan pernak-pernik keindahan duniawi, langkah terpuji tersebut tidak hanya membuatnya menjadi seorang hamba yang lebih baik, tetapi juga mengantarkan mereka terus memperdalam ilmu agama, hal itu juga ternyata membuat mereka tergugah hatinya menjadi seorang pendakwah, yang pertama : 1. Teguh Permana, band yang dahulu sangat familiar dengan lagu-lagunya yang menarik dan menggugah hati setiap pendengarnya, tiba-tiba menghilang bagaikan ditelan bumi, tidak munculnya kembali sang vokalis Vagetoz ini rupanya bukan tiada alasan, ternyata karena sang vokalis menemukan jalan terang mengantarkan penyanyi yang dikenal lewat lagunya yang berjudul saat kau pergi dan kehadiranmu ini menuju jalan hijrah. Hidayat telah merubah pria asal Sukabumi Jawa Barat ini menjadi sosok yang lebih baik dan san...

Kisah Mualaf Putra Sulung BOS FERRARI dan Juventus Edoardo Agnelli

Sebuah fakta baru terungkap dari lingkaran keluarga konglomerat Italia Gianni Agnelli, seperti diketahui adalah pemilik dua brand olahraga dunia yaitu klub sepakbola Juventus dan tim Formula One Ferrari. Selain itu ia juga memiliki brand otomotif merk Fiat, terlepas dari cerita mega itu putra sulungnya Edoardo Agnelli memiliki cerita yang memilukan. Edoardo yang pernah menjadi petinggi Juventus itu memilih keluar dari lingkaran kehidupan keluarganya dengan menjadi mualaf, tak banyak orang tahu siapa Edoardo, Edoardo sebenarnya sudah terbiasa dengan beberapa hal semisal bisnis sepakbola dan otomotif, Edoardo tak seperti sang ayah yang dikenal sebagai pebisnis ulung dan ahli bernegosiasi. Edoardo lebih senang menghabiskan waktunya dengan membaca buku-buku filsafat hingga tertarik dengan hal mistis yang pada akhirnya membawa Edoardo memilih untuk menjalani pendidikannya di Princeton University New Jersey Amerika Serikat, disini Edoardo memperdalam ketertarikannya tentang sastra filsafat d...