
Suara tarkhim jelang azan subuh terdengar bersahut-sahutan dari toa mesjid. Tapi mata tetap pulas hingga tak mendengar sama sekali suara ketukan pintu depan rumah. Padahal bapak sudah mengetuknya berkali-kali. Semalam saya tidur agak telat.
Saya begadang hingga larut mengedit sebuah naskah buku seorang teman.
Setelah mendengar ketukan agak keras barulah saya bangun. Dengan melawan rasa kantuk saya meraih kunci motor dan jaket. Kuda besi yang terparkir di ruang tamu saya keluarkan dan nyalakan.
Dalam sekejap bayangan kami pun hilang di telan kegelapan. Di tengah suhu dingin yang menembus kulit kami meluncur ke ujung desa.
Baca juga : Kuda Liar
Di sana bapak mengambil induk kuda yang ditambatkan pada areal sawah yang masih kosong. Dengan senter kecil bapak mencari ikatan kuda dalam kegelapan. Beberapa kali terdengar suara ringkikan. Bapak yang kian tua menarik tali kuda dan membawanya ke jalan raya, lalu diikuti kawanan kuda lainnya. Sedangkan saya bertugas mengikutinya dari belakang.
Seperti kebiasaan petani di Pulau Sumbawa umumnya semua ternak besar (kerbau, sapi, kuda dan kambing) dilepas ke alam liar, termasuk kuda-kuda kami ini. Pemilik baru akan menangkap dan mengikat ternaknya jika ada keperluan (dijual atau hajatan keluarga).
Sementara itu, memasuki musim tanam seperti sekarang praktis kami kesulitan untuk melepas ternak. Apalagi jagung kini menjadi komoditas andalan Pemda Dompu---menyebabkan ruang penggembalaan kian sempit karena hutan telah menjadi ladang jagung secara massif---kian menambah kesulitan tersebut.
Kami harus menyiapkan lahan khusus untuk menampung kuda selama musim tanam. Karena kuda-kuda ini liar maka agak berisiko jika harus menghalaunya siang hari karena binatang ini sensitif dengan orang maupun kendaraan.
Jaraknya cukup jauh memang. Sepanjang perjalanan kami sesekali mengambil jalan potong, termasuk melewati sungai. Meski menempuh jalan cukup berliku akhirnya kami berhasil sampai di tempat tujuan sebelum hari terang. Kuda-kuda ini segera dimasukkan dalam areal kosong yang telah disiapkan.
Pulang dari mengembalakan kuda-kuda itu saya maupun bapak terserang demam. Mungkin karena cuaca dingin. Pikiran saya pun segera melayang pada La'i, ponakan cantik yang sedang melakukan riset tentang areal pengembalaan ternak di Gili Rakit, Sumbawa. Riset itu untuk keperluan tesis S2-nya di Peternakan UGM.
Gili Rakit adalah sebuah pulau yang cukup luas---tempat dimana para petani membawa ratusan ternak mereka (kerbau dan sapi) dengan cara menyeberangi lautan.
Untuk ternak sapi, karena tak bisa berenang kabarnya diangkut dengan kapal, sedangkan kerbau mampu berenang sendiri. Ratusan ternak ini diungsikan sementara waktu selama musim tanam agar tidak mengganggu tanaman. Sebuah keraifan lokal yang sudah berlangsung lama.
Sambil menunggu hasil riset itu, pertanyaan yang menggoda saya adalah: dapatkah Gili Rakit itu dikloning sehingga dapat membantu para petani di Dompu?
Penulis : Ilyas Yasin
Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan sopan, anda sopan kami segan