Pulau Sumbawa (Sumbawa, Dompu dan Bima) itu
terkenal dengan susu kuda liarnya, selain madu. Dulu waktu saya kuliah,
iklan tentang khasiat susu kuda tersebut sering terdengar di sejumlah
radio swasta di Makassar.

Ini sesuai kebiasaan masyarakatnya yang di samping bertani juga
beternak. Di sela-sela mengurus pertanian para petani juga mengurus
ternak-ternak mereka. Limbah-limbah tanaman yang sudah selesai dipanen
(seperti jagung, padi atau kadele) menjadi pakan bagi ternak mereka.
Baca juga : Pendaki Cinta
Karena jumlah ternak perkepala keluarga rata-rata di atas lima ekor maka tentu berat jika harus dikandangkan. Pemiliknya akan kewalahan menyediakan rumput, sementara petani juga jarang yang memiliki areal pelepasan sendiri termasuk menanam rumput raja sebagai pakannya. Praktis pilihannya adalah melepaskan ternak-ternak itu di alam bebas.
Karena itu pula, tak heran jika hewan-hewan itu terutama sapi, kadang berkeliaran termasuk di wilayah perkotaan. Di pemukiman warga, kantor pemerintah hingga terminal mudah melihat hewan-hewan ini.
Dulu teman kuliah saya di Bandung Mas Alhamuddin sampai tertawa waktu saya bilang bahwa di Pulau Sumbawa kecelakaan lalulintas lebih sering nabrak hewan-hewan itu ketimbang nabrak orang hehehe.
Terutama pada malam hari, kendaraan dan bis-bis malam yang melintas dari Bima hingga Sumbawa harus ekstra hati-hati, karena di tikungan tajam mendadak nongol sapi atau kerbau yang melintas.
Waktu melihat beberapa induk kuda yang berkulit bersih dan montok kemarin, teman saya bang Supri Yamin sempat nanya apakah kuda-kuda itu diperah susunya atau tidak. Saya geli dengan pertanyaan ini.
Dulu, dengan meminta bantuan orang, kuda-kuda ini sempat diperah susunya untuk kebutuhan sendiri tapi kini tidak lagi. Bapak maupun ayah mertua saya tak punya waktu untuk memerahnya.
Tetapi nanti, kalau ditanya lagi bang Supri Yamin kenapa tidak diperah susunya, saya akan jawab, “Takut dijerat pasal pencabulan!” hehehe.
Penulis : Ilyas Yasin
Baca juga : Pendaki Cinta
Karena jumlah ternak perkepala keluarga rata-rata di atas lima ekor maka tentu berat jika harus dikandangkan. Pemiliknya akan kewalahan menyediakan rumput, sementara petani juga jarang yang memiliki areal pelepasan sendiri termasuk menanam rumput raja sebagai pakannya. Praktis pilihannya adalah melepaskan ternak-ternak itu di alam bebas.
Karena itu pula, tak heran jika hewan-hewan itu terutama sapi, kadang berkeliaran termasuk di wilayah perkotaan. Di pemukiman warga, kantor pemerintah hingga terminal mudah melihat hewan-hewan ini.
Dulu teman kuliah saya di Bandung Mas Alhamuddin sampai tertawa waktu saya bilang bahwa di Pulau Sumbawa kecelakaan lalulintas lebih sering nabrak hewan-hewan itu ketimbang nabrak orang hehehe.
Terutama pada malam hari, kendaraan dan bis-bis malam yang melintas dari Bima hingga Sumbawa harus ekstra hati-hati, karena di tikungan tajam mendadak nongol sapi atau kerbau yang melintas.
Waktu melihat beberapa induk kuda yang berkulit bersih dan montok kemarin, teman saya bang Supri Yamin sempat nanya apakah kuda-kuda itu diperah susunya atau tidak. Saya geli dengan pertanyaan ini.
Dulu, dengan meminta bantuan orang, kuda-kuda ini sempat diperah susunya untuk kebutuhan sendiri tapi kini tidak lagi. Bapak maupun ayah mertua saya tak punya waktu untuk memerahnya.
Tetapi nanti, kalau ditanya lagi bang Supri Yamin kenapa tidak diperah susunya, saya akan jawab, “Takut dijerat pasal pencabulan!” hehehe.
Penulis : Ilyas Yasin
Komentar
saya juga pengen belajar berternak kuda sepertinya menjanjikan.
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan sopan, anda sopan kami segan