Langsung ke konten utama

PENDAKI CINTA



Tidak banyak energi yang harus dihabiskan saat kita berkendara atau berjalan turun. Kita relatif bisa berjalan santai atau malah gak pake energi sama sekali. Ini berbeda saat menanjak: tidak hanya butuh energi besar tapi juga konsentrasi untuk menjaga keseimbangan tubuh. 

Jika berkendara berarti harus mengatur posisi gigi dan menekan pegas sedemikian rupa disertai sikap ekstra hat-hati.

Baca juga : Birokratisasi Agama

Begitu pula dengan ‘jalan’ menurun dan mendaki lainnya: menurunkan berat badan atau kadar gula darah tentu tidak seberat laku saat hendak menaikkannya.

Analogi itulah yang melintas di benak saya saat kemarin ada cewek nanya ke saya, bagaimana cara menghadapi cowoknya yang pendiam bahkan cenderung cuek bebek (tentu ini bebek jantan ya hehehe). 

Saat saya menyarankan mencari tahu penyebabnya agar tidak salah menilai atau mengambil keputusan, dia menolak. “Emangnya saya detektif?” tampiknya sengit. Menyebalkan kan? Hehehe.
Waktu saya tanya apakah sikap bungkamnya itu tiba-tiba atau ‘kutukan’ si doi sejak lahir, ternyata anaknya memang pendiam. Tapi sebagai perempuan dia mengaku kesal karena makhluk aneh itu kurang proaktif dalam berkomunikasi. 

Si ceweklah yang mesti mengambil semua inisiatif berkomunikasi: tanya kabar ini itu, sedang ngapain, sudah makan apa belum bla bla bla. Dia baru jawab setelah ditanya. Alasan lain, karena sibuk. Padahal ceweknya butuh perhatian.

Bagaimana mengatasinya? Saya tidak berani beri saran yang esktrem, misalnya agar segera mengakhiri hubungan. Karena keduanya yang menjalani hubungan itu, keputusannya tergantung mereka. Saya hanya bilang, jika merasa tidak nyaman dia berhak mengambil sikap.

Ketika saya pancing apakah dia mencintainya, dia tertawa. “Ya iya lah pak. Pasti cinta. Hubungan kami juga sudah lama hehehe”.“Ya sudah kalo begitu, anda harus merawat dan memperjuangkan cinta itu hingga tiba saatnya nanti,” kata saya via messenger.

Banyak orang yang mudah jatuh cinta tapi lupa memperjuangkannya. Memperjuangkan cinta jelas lebih berat ketimbang jatuh cinta. Jatuh cinta itu layaknya berjalan menurun tadi, sedangkan memperjuangkan dan mempertahankan cinta itu bagaikan mendaki: butuh perjuangan dan tenaga lebih besar. 

Si cewek tadi saya anggap dia sedang menyusuri jalan menanjak. Kesal dengan sikap sang cowok yang garing tidak cukup baginya untuk mengakhiri hubungan itu. Dia terlanjur cinta. Maka pilihannya menurut saya adalah memperjuangkan cintanya hingga waktu yang akan mengujinya. Bukan hanya cinta, segala harapan, cita-cita, kesenangan, pekerjaan dan masa depan----semuanya butuh perjuangan.

Jatuh cinta, sebagaimana jalan menurun tadi, jelas lebih mudah sebab kita dalam keadaan ‘buta, tuli dan mati rasa’ oleh pesona pasangan. Sementara kalau sudah terikat hubungan, misalnya berumah tangga, maka yang lebih dibutuhkan adalah memperjuangkan cinta, karena saat itu segala yang asli itu ketahuan. 

Meski masih status pacaran, tapi si cewek tadi jelas mulai memasuki jalur ‘mendaki’. Ini latihan sebelum benar-benar meresmikan hubungan mereka. Setelah menikah, yang dibutuhkan itu bukan lagi ‘pemuja cinta’ melainkan ‘pejuang cinta’. Mereka tidak lagi berjalan menurun tapi sedang mendaki.

“Konon diantara bukti perjodohan adalah jika kita ditakdirkan berpasangan dengan orang yang berbeda. Yah, miriplah seperti kalian berdua. Kamu tipe periang dipasangkan dengan cowok jutek nan pendiam. Apakah kalian benar-benar berjodoh, biarlah sejarah yang membuktikannya,” jawab saya menutup obrolan panjang itu. 

Dia pun membalas dengan mengirimkan emotion tersenyum.


Penulis : Ilyas Yasin

Komentar