Langsung ke konten utama

PENDIDIKAN TIPU-TIPU

Saya terpaksa turun tangan membantu anak kerabat yang hendak pindah sekolah. Kebetulan kedua orangtuanya sedang merantau dan mencari nafkah di luar daerah. Saya sudah membujuknya agar membatalkan rencananya, apalagi ia pindah dari sekolah negeri ke SMA swasta. Tapi tekadnya sudah bulat. Saya pun pasrah.

Baca juga : Pengembangan Karir

Gadis ini duduk di kelas dua SMA. Karena tetangga rumah, saya tahu keadaannya. Dia rajin ke sekolah, aktif mengikuti kegiatan ekskul dan lumayan cerdas. Dia menyelesaikan pendidikan dasarnya di Kalimantan sana, tempat bapak ibunya mencari peruntungan. 

Dia baru dua tahun pulkam. Orangtua menyekolahkannya di sini karena sulit menjangkau SMA di sana. Praktis ia fasih berbahasa Indonesia.

Berdasarkan penuturannya, ia mengaku kecewa dan terpukul karena nilai rapornya rendah. Bukan karena hasil belajarnya tidak sesuai harapan tapi oleh terlukanya rasa keadilan. Sebab beberapa temannya di kelas yang jarang masuk dan kemampuannya di bawah dia justeru nilainya tinggi. 

Teman-temannya di kelas yang bernasib sama juga heran dan kecewa. Mereka menduga keanehan itu hasil ‘permainan’ walikelasnya. Kabar yang beredar di kelas, sang guru merekayasa nilai rapor karena siswa tadi hendak mengikuti tes polisi. Mereka hendak protes tapi takut.

Saya belum sempat klarifikasi soal itu ke pihak sekolah, tapi sepertinya gosip ini benar. Saya mempercayai keterangan anak ini karena melihat kesungguhannya selama sekolah. 

Dua tahun lalu, saat anak saya bersekolah di sini juga menyampaikan kekecewaannya, terutama sekali soal aktivitas pembelajarannya. Gurunya sering tidak masuk kelas dan mengajar kendati ada di sekolah. Terlebih jika tidak ada kepala sekolah. 

Waktu ditanya alasan pindah, saya hanya menyampaikan faktor transportasi dan biaya. Saya merasa tidak elok jika harus mengkonfrontir secara langsung di hadapan anak kerabat tadi. Seorang staf menyayangkan kepindahan itu karena sekolahnya sudah terakreditasi A, apalagi sekolah yang dituju sebuah SMA-IT swasta. 

Tapi kami tidak peduli. Saya tersenyum kecut mendengar klaim itu. Setelah mendapatkan surat pindah akhirnya kami pulang. Gadis itu pun terlihat lega. Dia merasa tidak terbebani meski harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Baginya, keputusan untuk pindah sudah bulat.

Jujur, saya sangat kecewa dengan praktik pendidikan tipu-tipu ala guru tersebut. Apalagi ini bukan yang pertama. Empat tahun lalu praktik tidak terpuji ini pernah terbongkar dan menampar wajah pendidikan di Dompu. Pihak sekolah merekayasa nilai rapor beberapa siswanya agar dapat diterima di sejumlah PTN favorit melalui jalur undangan. 

Setelah menjalani proses perkuliahan anak-anak ini kelimpungan dan di-DO. Akibatnya sekolah pengusul mendapatkan hukuman ‘pinalti’. Kampus-kampus negeri ini akhirnya menolak menerima siswa dari beberapa sekolah yang dinyatakan ‘daftar hitam’ tersebut. 

Berdasarkan pengalaman itu, saya tadinya berharap agar praktik tipu-tipu tidak terjadi lagi. Lembaga pendidikan seharusnya menjadi cahaya dan bukan sumber kegelapan. Praktik tipu-tipu adalah kegelapan itu sendiri!


Penulis : Ilyas Yasin

Komentar

Unknown mengatakan…
Semangat ya nak
Yuni Bint Saniro mengatakan…
Ngeri juga ya jika ada praktik tipu2. Bukannya membantu tapi menjerumuskan anak sih. Bagaimana nggak menjerumuskan kalau pada akhirnya mereka juga kena DO saat perguruan tinggi. Hasil belajarnya jadi dipertanyakan bahkan masuk dalam daftar hitam. Jelas ini merugikan yang lain jg.
Neztra mengatakan…
Paling benci sama yang namanya tipu2 tega banget, terlalu jahat.

Postingan populer dari blog ini

Negara Muslim di Eropa (European Moslem Countries)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Hai guys Gimana kabarnya semoga semuanya baik-baik saja ya, Aamiin. Baik untuk kesempatan kali ini saya akan membahas Negara-negara mayoritas Islam di Benua Eropa, kalau ditanya apa sih agama mayoritas penduduk Eropa? tentu sebagian besar dari kita akan menjawab beragama Nasrani atau Kristen, ya Secara Vatikan yang menjadi pusat agama Katolik di dunia terletak di Benua ini. Sedangkan yang pernah berkunjung kesana mungkin akan menjawab mayoritas penduduk Eropa sekarang banyak yang menjadi atheis, banyak yang bergaya hidup bebas karena sistem sekuler yang telah diterapkan di sana bertahun-tahun. Berikut adalah negara-negara mayoritas Muslim di benua Eropa : 1. Turki Turki meliputi dua benua sebagian meliputi benua Eropa dan sebagian lagi meliputi benua Asia, Negara ini adalah pewaris kekhalifahan Islam Turki Utsmani yang berkuasa selama berabad-abad di sebagian wilayah Eropa dan Timur Tengah, di Indonesia nama Turki semakin terkenal karena semak...

Kisah Mualaf Putra Sulung BOS FERRARI dan Juventus Edoardo Agnelli

Sebuah fakta baru terungkap dari lingkaran keluarga konglomerat Italia Gianni Agnelli, seperti diketahui adalah pemilik dua brand olahraga dunia yaitu klub sepakbola Juventus dan tim Formula One Ferrari. Selain itu ia juga memiliki brand otomotif merk Fiat, terlepas dari cerita mega itu putra sulungnya Edoardo Agnelli memiliki cerita yang memilukan. Edoardo yang pernah menjadi petinggi Juventus itu memilih keluar dari lingkaran kehidupan keluarganya dengan menjadi mualaf, tak banyak orang tahu siapa Edoardo, Edoardo sebenarnya sudah terbiasa dengan beberapa hal semisal bisnis sepakbola dan otomotif, Edoardo tak seperti sang ayah yang dikenal sebagai pebisnis ulung dan ahli bernegosiasi. Edoardo lebih senang menghabiskan waktunya dengan membaca buku-buku filsafat hingga tertarik dengan hal mistis yang pada akhirnya membawa Edoardo memilih untuk menjalani pendidikannya di Princeton University New Jersey Amerika Serikat, disini Edoardo memperdalam ketertarikannya tentang sastra filsafat d...

NEGARA Atheis Pertama Yang Kini NEGARA ISLAM

NEGARA Atheis Pertama Yang Kini NEGARA ISLAM yaitu Albania. Begitulah dunia menyebut negara Eropa yang satu ini, maka tak mengherankan jika bendera Nasional Albania bergambar elang hitam berkepala dua, dengan latar belakang merah. Hal ini disebabkan karena bendera ini pernah digunakan oleh Skanderborg saat memimpin pemberontakan melawan Ottoman pada abad ke-15 untuk menghormati jasanya. Maka bendera elang tersebut dijadikan bendera Nasional bahkan masyarakat Albaniah menyebut diri mereka sebagai anak-anak elang. Para akademisi percaya kalau penduduk Albania berasal dari keturunan non Slavia yang merupakan kelompok suku kuno Turki, sehingga orang Albania menganggap diri mereka sebagai keturunan illyria kuno, melansir britannica.com Suku illyria tinggal di Eropa Tengah dan bermigrasi ke selatan wilayah Albania pada awal jaman perunggu sekitar 2.000 sebelum masehi. Mereka telah hidup dalam isolasi dan ketidak jelasan, mulai sejarah panjang yang sulit hal ini terjadi bukan hanya karena...