Dalam tradisi masyarakat Dompu dan Bima, jika menjenguk orang yang sedang sakit biasanya akan meminta ridho dan saling maaf-memaafkan. Ini berlaku terutama jika si sakit orang dewasa atau sudah sepuh.
Saat datang mereka akan menyalami dan minta saling memaafkan pada si sakit. Tak jarang permintaan maaf itu tidak direspon, atau direspon dengan isyarat saja oleh si sakit karena kondisinya sudah parah dan sepuh. Namun orang-orang yang datang akan tetap berusaha menyalami dan meminta maaf.
Saya tidak tahu apakah permintaan saling memaafkan itu bagian dari etika menjenguk orang sakit atau tidak. Sepengetahuan saya sepertinya tidak. Etika jenguk si sakit antara lain mendoakan kesembuhan, menyemangatinya, menjaga suasana tenang dan nyaman dll.
Permintaan untuk saling memaafkan terutama berlaku jika si sakit dan pihak lain pernah terlibat dalam perselisihan sehingga menimbulkan dendam dan sakit hati. Saling memaafkan itu diperlukan untuk meluruhkan dendam dan sakit hati itu sehingga jika si sakit meninggal dunia islah itu sudah terlaksana.
Jadi, pointnya menurut saya, permintaan saling memaafkan itu berlaku dalam konteks khusus. Sedangkan di luar itu saling memaafkan tersebut dapat dilakukan kapan dan dimana saja; tanpa harus menunggu sakit parah.
Seperti pagi tadi misalnya, saat saya menjenguk kerabat yang sakit parah di Bolo, Bima. Sakitnya lumayan berat dan mulai Sepuh. Ketika duduk dekat kepalanya dan sambil mengecek suhu badan nya, saya diminta oleh kerabat untuk berbisik minta maaf di telinga si sakit.
Tapi saya tidak melakukannya. Di samping kami tidak punya masalah pribadi, secara etis menurut saya kurang elok minta maaf kepada si sakit yang tidak menunjukkan respon apapun. Tindakan itu rasanya kok seperti berharap ia segera wafat, sehingga saya putuskan untuk tidak melakukan nya.

Saat datang mereka akan menyalami dan minta saling memaafkan pada si sakit. Tak jarang permintaan maaf itu tidak direspon, atau direspon dengan isyarat saja oleh si sakit karena kondisinya sudah parah dan sepuh. Namun orang-orang yang datang akan tetap berusaha menyalami dan meminta maaf.
Saya tidak tahu apakah permintaan saling memaafkan itu bagian dari etika menjenguk orang sakit atau tidak. Sepengetahuan saya sepertinya tidak. Etika jenguk si sakit antara lain mendoakan kesembuhan, menyemangatinya, menjaga suasana tenang dan nyaman dll.
Permintaan untuk saling memaafkan terutama berlaku jika si sakit dan pihak lain pernah terlibat dalam perselisihan sehingga menimbulkan dendam dan sakit hati. Saling memaafkan itu diperlukan untuk meluruhkan dendam dan sakit hati itu sehingga jika si sakit meninggal dunia islah itu sudah terlaksana.
Jadi, pointnya menurut saya, permintaan saling memaafkan itu berlaku dalam konteks khusus. Sedangkan di luar itu saling memaafkan tersebut dapat dilakukan kapan dan dimana saja; tanpa harus menunggu sakit parah.
Seperti pagi tadi misalnya, saat saya menjenguk kerabat yang sakit parah di Bolo, Bima. Sakitnya lumayan berat dan mulai Sepuh. Ketika duduk dekat kepalanya dan sambil mengecek suhu badan nya, saya diminta oleh kerabat untuk berbisik minta maaf di telinga si sakit.
Tapi saya tidak melakukannya. Di samping kami tidak punya masalah pribadi, secara etis menurut saya kurang elok minta maaf kepada si sakit yang tidak menunjukkan respon apapun. Tindakan itu rasanya kok seperti berharap ia segera wafat, sehingga saya putuskan untuk tidak melakukan nya.
Penulis : Ilyas Yasin
Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan sopan, anda sopan kami segan