Mengenal upacara adat atau tradisi Mbojo, Dompu prosesi khitanan dan khatam Al-Quran. Ketika seorang anak beranjak dewasa, bagi masyarakat Dompu merupakan saat yang tidak kalah sakralnya dengan kelahiran. Proses menjadi dewasa sama halnya dengan momen dimana seorang anak beralih dunia, meninggalkan masa kanak- kanak yang penuh dengan keceriaan menuju masa remaja yang penuh tanggung jawab bagi diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat.
Upacara khitanan dalam adat Dompu disebut upacara suna ro ndoso. Biasanya upacara suna ro ndoso dilakukan ketika anak laki-laki berumur lima sampai tujuh tahun. Bagi anak perempuan antara dua sampai dengan empat tahun. Upacara khitan bagi anak laki-laki disebut suna. Sedangkan bagi puteri disebut”sa ra so.

Uniknya lagi, berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat, jika jumlah jajan yang dijadikan sebagai sesajen (Di sebut SOJI ra NDOSO dalam bahasa Dompu) tidak sesuai dengan tingkat anak yang disunat, maka anak tersebut akan mengalami gangguan jiwa bahkan akan hilang ingatan. Kepercayaan ini, turun temurun dipercayai sejak jaman dulu. Untuk memenuhi jumlah jajan yang akan dijadikan sebagai sesajen itu, biasanya warga yang memiliki hajatan akan membuatnya jauh hari sebelum acara sunat dilakukan. Sebagai bahan tambahan dalam prosesinya, warga juga menambahkan bahan lain seperti, beras kuning, lilin, telur, kain kuning, kapur dan daun sirih, buah pinang, buah kelapa dan yang lainnya.
Kapanca. Dilakukan pada malam hari. Pada telapak tangan putra putri yang akan dikhitan ditempelkan kapanca. Dilakukan oleh beberapa orang tua adat wanita secara bergilir. Selesai upacara kapanca, diadakan upacara “Ngaji tadaru” (Tadarusan). Setelah tadarusan berakhir, maka dilanjutkan. Acara hiburan dan hadrah. Dihalaman rumah pertunjukan kesenian rakyat, seperti mpa’a sila, gantao dan buja kadanda.
Upacara Ndoso dan Compo Sampari Serta Compo Baju.
a. Upacara Ndoso.
Pagi hari setelah selesai kapanca, akan dilakukan upacara ndoso. Yaitu upacara pemotongan kuku, rambut dan gigi anak yang akan disunat. Gigi si anak sesungguhnya tidak dipotong.Tetapi hanya disuruh menggigit sepotong “haju tatanga” (kayu jarak liar) yang getahnya dapat menguatkan gigi. Acara pemotongan kuku, rambut dan gigi disebut ndoso.
b. Upacara Compo Sampari (Pemasangan Keris).
Setelah upacara ndoso, dilanjutkan dengan acara compo sampari atau pemasangan kris (memakaikan kris) kepada anak laki-laki yang akan di sunat. Compo sampari dilakukan oleh seorang tua adat. Diawali dengan pembacaan doa disusul dengan bacaan shalawat kepada Nabi. Diiringi dengan musik genda Mbojo dan dimeriahkan dengan pertunjukan kesenian rakyat. Tujuan compo sampari, ialah sebagai peringatan bahwa anak laki-laki harus memiliki kekuatan dan keberanian.
c. Upacara Compo Baju (Pemasangan Baju)
Bagi anak perempuan, setelah upacara ndoso, dilanjutkan dengan upacara compo baju. Yaitu pemasangan baju poro me’e kepada anak yang akan di sa ra so. Dilakukan oleh seorang tua adat wanita. Upacara compo baju dimeriahkan dengan berbagai atraksi kesenian rakyat. Tujuan upacara compo baju, ialah merupakan peringatan bagi si anak, bahwa kalau sudah sa ra so, ia sudah dianggap dewasa. OIeh sebab itu Ia harus menjaga atau melindungi auratnya. Dengan memakai baju, tembe dan todu. (kerudung).
Setelah semua upacara adat selesai dilaksanakan, maka akan dilaksanakan acara inti, yaitu acara khitanan. Bagi anak laki – laki dilaksanakan sore hari. khitan dilakukan oleh petugas kesehatan atau dokter.
Saraso ( khitan) anak perempuan, akan dilaksanakan pagi hari, Khitanan anak perempuan dilakukan oleh seorang tua adat wanita.
Acara khitanan diiringi dengan irama musik genda (gendang) untuk menambah semangat dan keberanian anak yang dikhitan.
Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan sopan, anda sopan kami segan