
Mengikuti suami yang berkerja di Jakarta pada masa awal pernikahan. Dua minggu setelah pernikahan aku ikut suami merantau. Ketika merantau pertama kali tidak berjalan seperti yang aku duga.
Kota kelahiran memang tempat terbaik, tapi ada harapan yang harus kuselesaikan diperantauan. Ketika merantau pertama kali tidak berjalan seperti yang aku duga. Bersama waktu aku melukis cerita di kota perantauan dan kalian yang selalu dihati.
Tidak ada sedikitpun keranguan untuk ikut suami merantau. Keputusanpun murni dari aku, tidak ada paksaan atau bujukan dari suami. Karena aku pikir bisa menjalani rumah tangga tanpa interupsi pihak lain. Keputusanku sudah bulat, kemanapun suami pergi aku harus ikut.
Jangan ditanya rasa sedihnya dihari keberangkatan kami. Saat pamitan aku masih bisa tersenyum. Tapi dalam perjalanan aku tidak kuasa menahan air mata. Aku sadar bahwa aku akan jau dari orang-orang terdekat. Bukan hanya keluarga, tapi juga sahabat
Keluarga baruku mencintai dan dicinta yang tak membuat kesepian berada jauh disini. Di kota ini aku melewati perjalanan hidupku bersamanya tempat ternyamanku. Bersamanya ku temukan kebahagiaan. Tempatku bercerita ketika aku merindukan orang-orang yang aku sayang di kampung halaman. Meskipun selalu ada, dia tak ingin aku menjadi sosok yang manja. Ya tepat sekali tak ada alasan tak punya kemampuan. Sifat yang mengayomi dan membentukku menjadi pribadi yang bertumbuh dewasa. Dalam diam, dia menunjukkan bagaimana seharusnya bersikap. Aku bersyukur menjadi bagian dari hidupnya.
Setiap hari, di saat suami pergi kerja, aku harus menguji kesabaran. Tinggal ditempat baru, belum punya teman. Sementara suami sudah sibuk dengan aktivitas sehari-harinya
Ada saatnya aku menangis karena merasakan rindu. Sedih karena tak bisa langsung menatap wajah ortu untuk menyampaikan rasa kangen. Hanya suara mereka yang bisa menguatkan. Doa-doa mereka yang bisa memberi kita cahaya terang. Saat ini mungkin aku menderita. Tapi yakin InsyaAllah akan berakhir dengan indah. Asal tetap bersabar, bertahan dan berani melangkah kedepan.
Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan sopan, anda sopan kami segan